hari ini,
hanya hari ini,.,.,
tiada hari lebih besar untuk bunga mawar mekar,
ataupun untuk para pedagang permen,
dan wanita memasak coklat.
Masuk dan keluar gang yang sempit ini kadang membuatku memikirkan untuk mengajukan surat pelebaran gang kepada Pak RW, tiada yang tanggap apalagi peduli, tidak juga aku. Sungguh hari yang perih jika sendiri, melewati malam penuh hujan badai tanpa selimut tebal mendampingi. Sedikit coklat panas akan sangat membantuku hidup dalam kasih, jika dia disini. Halus rambut panjangnya akan membuatku pulas, tertidur dalam segala mimpiku yang putih.
Harusnya ayahku tidak menamaiku seperti ini, mentang-mentang lahir tanggal 14 bulan kedua tahun kedua ayah dan ibuku menikah. “Biar romantis”, katanya. Tapi aku bukan tipe seperti harapan itu, aku hanya lelaki biasa yang mengasihi wanita luar biasa. Secara sederhana, hidupku tidak seperti yang banyak orang harapkan. haha,.,.,.,
hari kasih ini,
ketika wanita menasbih cintanya dengan bunga,
dan pria membakar uangnya dengan gelora manisan.
tak ada yang peduli dengan kebingungan.
sudahlah,.,
aku tak berpikir,.,,juga merasa ini,.,.,
Valentino berlalu melewati gang sempit itu dan menuju kampusnya, untuk belajar filsafat cinta…. Senyum sedikit memicu giginya yang ompong satu untuk muncul, menunjukkan bahwa apapun tidak ada yang sempurna, seperti kata orang bijak, dan aku tak peduli.
Filed under: Cerita Puisi, Uncategorized Tagged: | valentine

wew, valentinonya ompong.. hehehe…
wah, si adit ternyata puitis dan romantis juga ternyata..
baru tahu aku..
hehehe…
hehe,, makasi udah berkunjung dan melihat sisi rofmantasi ini semuaa,., :p