Begadang

Yang tak penting adalah ketika kau berharap waktu kembali berputar ke kiri. Mengikuti kehendak kecilmu akan kebebasan asa, dan ternyata tak bisa.

Detik dan detik bercengkrama mengikuti alur yang tiada, berontak. Jika tenant aku sudah tertidur pulas memimpikanmu, memakai baju biru yang kubelikan tadi pagi, rabu itu. Suara angin membangunkan inginnya darah, mengalir memancing jantung untuk berubah merah, dan kaupun tak usah marah esok. Aku tahu kesalahan, aku beri kata maaf dan khilaf. Tunggulah matahari menghapus air mata, dan ku heningkan asa agar kau bahagia, disana, dengan dia dan mereka.

Malam larut dan bukan salahku tak tertidur di pangkuanmu hitam. Aku takut cahaya. Aku ditemani malam, dan bintang senja. Sering tanpa kata hanya terdiam merenungi bulir-bulir impian yang sudah basi. Sedikit kutanak dan kumakan saja beras empuk. Sayurnya sudah busuk, dan daging bakar itu menggoda senyuman.

Ini bukan cerita hanya peristiwa yang kucatat saja. Ketika malam tak bisa kutaklukkan dengan wajar dan tak bisa kulampaui dengan akal. Diamlah kedamaian. Aku bosan mericuh riuh.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s