Sepeda Kumbang

ha..ha..ha..

uhuk..uhuk,.,

 

Ayo melaju kencang sepeda kumbaang!!!! Ah! Dubrak! Jatuh terjerembab.

Bangun lagi dan kukayuh lagi. Ah! Dubrak! Jatuh ke got. Sakit!

Angkat, kayuh dan berlari lagi si Dongky, sepeda kumbang alias jengki. Ha..ha..ha…

 

Kuparkir penuh cinta di depan rumah si dia. Kuketuk pintunya dan dia tak ada. Ah! Sakit!

Kukayuh lagi, lari lagi, lebih kencang dari tadi. Sungguh tak pernah pincang, sepeda kumbang ini. Ah! Remnya BLONG! Dubrak!

Diam, menangis si kumbang hilang rodanya. Menggelintir ke seberang jalan. Ah! Sial!

Continue reading

Advertisements

Berdarah Murni

Darah itu mengalir pergi,

begitu kau berteriak “Mati atau Menang!!!”

 

Berbagai teriakan di punuk jaman,

berdiri seperti duri,

mengayak segala peri,

pergi,

mati.

 

TIDAK,

aku berteriak suram,

merana dalam malam,

dan aku antarkan rindu pada mentari,

dengan darah suci.

 

Dalam segala mimpi buruk,

berjenjang mengarah paruh waktu yang gila,

gila dan gila,.,,

 

GILA!!!

Terdiam Seketika

Simpanlah ibamu.

usaikan ibadahmu.

Serahkan nyatamu pergilah tidur yang pulas.

kudiamkan diri menyanyi pagi,,.

 

Berharap ada yang membalas seketika suara diamku. Tak ada yang keluar dari gang kecil itu. Siapapun tak bisa terbang. Sungguh aku tak ingin menceritakan apa-apa, dan kata-kalimat sebelumnya memang tanpa makna, apalagi konjugasi penting. GA PENTING samasekali.

 

Lihat jiwa pergi,

ke langit pagi tanpa malam.

Continue reading

Senja Lalu Tiada

Kala senja berlalu,

pilu seakan matahari semu…

Kutuangkan teh hangat ini padanya,

lengkap dengan sepiring kue kecil berlapis cokelat.

Dan melihatnya diam menatap pantai lepas oranye…

 

Setahun lalu dia masih tersenyum, ceria seperti pertama kali kami bertemu, di dermaga itu setiap rabu dan sabtu. Ketika itu dia sering memandangi lautan, dengan kameranya yang sudah tua dan rapuh. Rambutnya selalu terurai, setidaknya rabu di September itu dia pernah ikat sekali, ya, sekali itu saja sebelum akhirnya kami menikah. Dia cantik tanpa pernah kuungkap betapa hal ini bisa kugambarkan. Biarlah menjadi misteri buat kalian, karena dialah ‘misteriku’.

Continue reading

A.I.R.

Panas,

dan kubutuh air.

Demi kesejukan kumerintih,

menahan tawa renta yang semakin menua, tanpa air.

Entah kenapa, Putra selalu merindukan Air, iya, Air. Dia yang telah lama membuatnya tersenyum tanpa malu yang hinggap selalu. Putra memang pemalu, parah, sering ngompol kalau lagi pilu oleh tawa ejekan teman-temannya. Tapi Air, selalu memberinya minum dan memaksanya tersenyum dengan kesegaran tawanya. Air memang OK, TOP dah buat kehidupannya.

“Senyum nae Putra! Isssh,.,.,”, rayu Air suatu pagi.

🙂

Continue reading

Sejenak Peristiwa

Kini airmata senantiasa membanjiri hati yang luka.

 

Bukan peristiwa yang memberi jaman nafas,

tak juga sebatas puisi yang menerpa luka,

dan sedikit harapan,

menghidupkan hari lama.

 

Tak terpikir olehku berbagi jiwa, lagi dalam duka kini dan peristiwa. Aku merasa begitu terpajan oleh hal yang tak pernah ada, sesuatu yang benar-benar tiada. Merasa bahwa tak ada yang kulakukan demi dia, hanya sia-sia. hahaha…

Ketika ini terdengar sebagai sebuah irama, rima dan kata jala, sesuatu menghampiriku dan menampar muka, plak! Tak kumengerti, kuingin aneh sendiri. Pagi ini masih gelap dan terdengar suara kucing mengerang, entah darimana, mencarinya percuma saja.

Continue reading

Aku Tak Pernah Merasa Iba…

Ketika bulan menari,

dan malam membasahiku dengan sinar suci,.,


Aku tak pernah merasa iba,

akan kehadiran kegelapan, yang

berusaha mencaciku dengan ke-nonaktifan sinarnya…

haha,,,

Meskipun ini pagi, dan kemarin malam aku bermimpi bertemu malaikat, namun malam itu takkan pernah bisa meninggalkan jejak tidak transparan dalam otak. Ya, semua berlalu begitu aku menerima sebuah kepercayaan tentan gwaktu palsu, biru dan semua seakan membeku. Berdiri di tepi pantai ditinggal kekasih, dan hanya memandangi bulan meratapi pasir meresah ombak.

Kasihan,

iba, Continue reading