Toretetet

Toretet…

toretet,

toretetet…

Pagi itu cerah mencaci kusutnya mukaku. Belum mandi, gosok gigi apalagi sarapan pagi, tidak! Belum!

Aku sendiri lagi menyanyikan lagu usang itu, lagu baru kata pamanku. Belajar kemarin sampai hilang niat untuk bangun, selalu galau selama racau lalu. Bosan dengan selimut bau itu, dan akupun meminum segelas bir. Mandi :).

Airnya terasa dingin, menggoda iman untuk tidur (lagi). Nikmat mentari pagi diluar sana masih belum memanggilku tuk beranjak pergi. Ayolah, lari kakiku. Pintu terbuka dan, AHA! aku menemukan kucing hitam mengeong pergi. Oh, tidak mungkin dia memakan ikan, tidak juga ada tikus. Aku takut, dan ini bukan pertanda baik.

toretet, toretetet…

toretetetetet…

Sial, suara itu bunyi lagi! Seolah kita tidak mendengar hal yang lebih murni dari ini, bahkan tak mencoba mengugah semangat pagi ini. Sial, aku mengoceh lagi.


Advertisements

Terdiam Seketika

Simpanlah ibamu.

usaikan ibadahmu.

Serahkan nyatamu pergilah tidur yang pulas.

kudiamkan diri menyanyi pagi,,.

 

Berharap ada yang membalas seketika suara diamku. Tak ada yang keluar dari gang kecil itu. Siapapun tak bisa terbang. Sungguh aku tak ingin menceritakan apa-apa, dan kata-kalimat sebelumnya memang tanpa makna, apalagi konjugasi penting. GA PENTING samasekali.

 

Lihat jiwa pergi,

ke langit pagi tanpa malam.

Continue reading

Saat Ini Pun,.,.,

Kutengok jam dinding di sebelahku, hanya teronggok suaranya yang berdetik.

Memang, semenjak kecelakaaan itu, mataku hanya bisa mengabu,.,

Kutilik jemari di tangan kiri, yang kurasa sedikit bekas luka, tak dalam, tapi cukup menggores hatiku.

Andai mereka melihatku yang tak melihat ini,

mungkin mereka akan menceritakan bagaimana kejamnya dunia sekarang. Continue reading