Senja Lalu Tiada

Kala senja berlalu,

pilu seakan matahari semu…

Kutuangkan teh hangat ini padanya,

lengkap dengan sepiring kue kecil berlapis cokelat.

Dan melihatnya diam menatap pantai lepas oranye…

 

Setahun lalu dia masih tersenyum, ceria seperti pertama kali kami bertemu, di dermaga itu setiap rabu dan sabtu. Ketika itu dia sering memandangi lautan, dengan kameranya yang sudah tua dan rapuh. Rambutnya selalu terurai, setidaknya rabu di September itu dia pernah ikat sekali, ya, sekali itu saja sebelum akhirnya kami menikah. Dia cantik tanpa pernah kuungkap betapa hal ini bisa kugambarkan. Biarlah menjadi misteri buat kalian, karena dialah ‘misteriku’.

Continue reading

Ku Ingin Bunuh Diri!!!

Membenci hidup,

laron-laron yang semalam membisiki.

Sayapnya terdengar garang,

mengepak ritmik hidup,

walau esok mati.

Hanya aku ingin menceritakan hal yang menurutku tak baik diceritakan. Ini sebuah kisah yang kubenci namun harus kutanyakan pada kalian, apakah kalian ingin mati??? Mungkin tidak atau mau, tergantung seberapa indah dan kelam hidup kalian. Ketika beberapa kali menikam pisau di hati yang lusuh, bersedih melalui hari-hari yang sungguh, seperti lagunya New Eta- Dalam Pekatnya, “Persetan pagi ini, aku tak ingin bangun lagi, byar lepas aku kembali bermimpi”.

Semakin berwaktu,

aku berdiri disini.

Teratur seakan tak pernah mati.

Tapi orang yang ingin mati itu kekasihku!!! Bangsat!!! Aku cuma bisa diam, dan memeluk tangisku. Kucegah dia pun menangis, kudiam dan dia tetap menangis. Kenapa bunuh diri menjadi kisahku kini??? Continue reading