Diantara Gunung Tinggi dan Bukit-bukit Kejauhan

Aku mendengar sendiri keluhan kecilku

Akan kepedihan di dalam hati

Yang tak mampu berbuat lebih dari menangis

Ku tak berdaya…

Aku menatap kembali masa ringanku

Saat beban tak terlalu berat di jiwa

Yang mampu gembira dan tertawa sendiri

Aku tak berdaya…

Disaat kehampaan hati ini

Mulai bertemu dengan cinta

Juga beberapa kasih yang sesungguhnya

jarang untuk abadi

karena aku terlalu sibuk dengan kata-kata

bagaimana untukku berucap…

Kutunggu mataku terpejam

dan saat terbuka ku menemukan hati sebelah

yang terbawa masih jauh

diantara gunung tinggi

dan bukit-bukit kejauhan…

Aku menangkap sendiri kesedihan

Yang sebetulnya masih terus bersembunyi

Dalam kenangan dan keindahan

Dalam cinta dan kasih yang dipancarkan

Dan olehmu akhirnya aku berkata-kata…

Hingga aku tak berdaya…

Advertisements

Sepeda Kumbang

ha..ha..ha..

uhuk..uhuk,.,

 

Ayo melaju kencang sepeda kumbaang!!!! Ah! Dubrak! Jatuh terjerembab.

Bangun lagi dan kukayuh lagi. Ah! Dubrak! Jatuh ke got. Sakit!

Angkat, kayuh dan berlari lagi si Dongky, sepeda kumbang alias jengki. Ha..ha..ha…

 

Kuparkir penuh cinta di depan rumah si dia. Kuketuk pintunya dan dia tak ada. Ah! Sakit!

Kukayuh lagi, lari lagi, lebih kencang dari tadi. Sungguh tak pernah pincang, sepeda kumbang ini. Ah! Remnya BLONG! Dubrak!

Diam, menangis si kumbang hilang rodanya. Menggelintir ke seberang jalan. Ah! Sial!

Continue reading

Berdarah Murni

Darah itu mengalir pergi,

begitu kau berteriak “Mati atau Menang!!!”

 

Berbagai teriakan di punuk jaman,

berdiri seperti duri,

mengayak segala peri,

pergi,

mati.

 

TIDAK,

aku berteriak suram,

merana dalam malam,

dan aku antarkan rindu pada mentari,

dengan darah suci.

 

Dalam segala mimpi buruk,

berjenjang mengarah paruh waktu yang gila,

gila dan gila,.,,

 

GILA!!!

Terdiam Seketika

Simpanlah ibamu.

usaikan ibadahmu.

Serahkan nyatamu pergilah tidur yang pulas.

kudiamkan diri menyanyi pagi,,.

 

Berharap ada yang membalas seketika suara diamku. Tak ada yang keluar dari gang kecil itu. Siapapun tak bisa terbang. Sungguh aku tak ingin menceritakan apa-apa, dan kata-kalimat sebelumnya memang tanpa makna, apalagi konjugasi penting. GA PENTING samasekali.

 

Lihat jiwa pergi,

ke langit pagi tanpa malam.

Continue reading

Senja Lalu Tiada

Kala senja berlalu,

pilu seakan matahari semu…

Kutuangkan teh hangat ini padanya,

lengkap dengan sepiring kue kecil berlapis cokelat.

Dan melihatnya diam menatap pantai lepas oranye…

 

Setahun lalu dia masih tersenyum, ceria seperti pertama kali kami bertemu, di dermaga itu setiap rabu dan sabtu. Ketika itu dia sering memandangi lautan, dengan kameranya yang sudah tua dan rapuh. Rambutnya selalu terurai, setidaknya rabu di September itu dia pernah ikat sekali, ya, sekali itu saja sebelum akhirnya kami menikah. Dia cantik tanpa pernah kuungkap betapa hal ini bisa kugambarkan. Biarlah menjadi misteri buat kalian, karena dialah ‘misteriku’.

Continue reading

Sejenak Peristiwa

Kini airmata senantiasa membanjiri hati yang luka.

 

Bukan peristiwa yang memberi jaman nafas,

tak juga sebatas puisi yang menerpa luka,

dan sedikit harapan,

menghidupkan hari lama.

 

Tak terpikir olehku berbagi jiwa, lagi dalam duka kini dan peristiwa. Aku merasa begitu terpajan oleh hal yang tak pernah ada, sesuatu yang benar-benar tiada. Merasa bahwa tak ada yang kulakukan demi dia, hanya sia-sia. hahaha…

Ketika ini terdengar sebagai sebuah irama, rima dan kata jala, sesuatu menghampiriku dan menampar muka, plak! Tak kumengerti, kuingin aneh sendiri. Pagi ini masih gelap dan terdengar suara kucing mengerang, entah darimana, mencarinya percuma saja.

Continue reading

Aku Tak Pernah Merasa Iba…

Ketika bulan menari,

dan malam membasahiku dengan sinar suci,.,


Aku tak pernah merasa iba,

akan kehadiran kegelapan, yang

berusaha mencaciku dengan ke-nonaktifan sinarnya…

haha,,,

Meskipun ini pagi, dan kemarin malam aku bermimpi bertemu malaikat, namun malam itu takkan pernah bisa meninggalkan jejak tidak transparan dalam otak. Ya, semua berlalu begitu aku menerima sebuah kepercayaan tentan gwaktu palsu, biru dan semua seakan membeku. Berdiri di tepi pantai ditinggal kekasih, dan hanya memandangi bulan meratapi pasir meresah ombak.

Kasihan,

iba, Continue reading

Saat Ini Pun,.,.,

Kutengok jam dinding di sebelahku, hanya teronggok suaranya yang berdetik.

Memang, semenjak kecelakaaan itu, mataku hanya bisa mengabu,.,

Kutilik jemari di tangan kiri, yang kurasa sedikit bekas luka, tak dalam, tapi cukup menggores hatiku.

Andai mereka melihatku yang tak melihat ini,

mungkin mereka akan menceritakan bagaimana kejamnya dunia sekarang. Continue reading

Rintik Cahaya

Putih rembulan tak pernah gantikan cerahnya cahyamu,,

Tak juga matahari karena itu aku,

Terdiam dan merenungi hutan yang sunyi

Menangkap terpaan hangat jiwa yang sepi,

Berdosa dan kian mati membisu.

Untung kau mengerti akan usaha yang tak terjadi,

Menyesal jadi pilihan…

Andai bulan meramalkan cerita cinta,

Dan hutan pergi menawarkan hati pilu,,,

Menunggu badai mereda,,

Kau kan bahagia…